Sabtu, 11 Mei 2013

ILM PENDKN ISLAM


PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM
TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

A.    Latar Belakang Masalah
Untuk merumuskan tujuan pendidikan islam harus diketahui lebih dahulu cirri manusia sempurna menurut islam, untuk mengetahui cirri manusia sempurna menurut islam harus diketahui lebih dahulu hakekat manusia menurut islam.
1.      Hakekat manusia menurut islam
Menurut islam manusia adalah makhluk ciptaan Allah, ia tidaklah muncul dengan sendirinya dan oleh dirinya sendiri. Al-Qur’an surat Al-alaq ayat 2 menjelaskan bahwa  manusia diciptakan Tuhan dari segumpal darah, dan Al-Qur’an surat At-thariq: 5 bahwa manusia dijadikan oleh Allah.
Pengetahuan kita tentang asal kejadian manusia ini amat penting artinya dalam merumuskan tujuan pendidikan bagi manusia. Asal kejadian ini justru harus dijadikan pangkal tolak dalam menetapkan pandangan hidup bagi orang islam. Pandangan tentang kemakhlukan manusia cukup menggambarkan hakekat manusia. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan inilah hakekat wujud manusia.
Hakekat wujud yang lain ialah bahwa manusia adalah makhluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan dalam teori pendidikan lama dikatakan bahwa perkembangan ( seseorang) hanya dipengaruhi oleh pembawaan ( nativisme), dan teori empirisme yang menyatakan bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh lingkungannya. Dikembangkan teori ketiga yang menyatakan bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh pembawaan dan lingkungannya ( konvergensi). Salah satu sabda Rasulullah SAW, “ tiap oran dilahirkan membawa fitrah. Ayah dan ibunyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR. Bukhari dan Muslim).
Manusia adalah makhluk yang berkembang karena dipengaruhi pembawaan dan lingkungan adalah salah satu hakekat wujud manusia, dalam perkembangannya manusia itu cenderung beragama inilah akibat wujud manusia yang lain bahwa manusia itu adalah makhluk yang uttuh yang terdiri atas asmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok.
Al- qur’an menelaskan bahwa manusia itu mempunyai aspk asmani aspek asmani itu tidak bisa dipisahkan dari aspek rohani tatkala manusia masih hidup di dunia. Dalam surat Al- Baqarah ayat 247 Allah menerangkan bahwa syarat imammah antara lain adalah memiliki pengetahuan dan kekuatan fisik. Dan surat Al- munafikun ayat 4 dijelaskan oleh Allah bahwa tubuh yang kuat dan elok tidak memiliki keistimewaan bila orangnya munafik. Manusia mempunyai aspek akal ini sudah jelas bahwa manusia normal menyadari hal itu, akal yang paling penting disini bahwa bukanlah akal sekedar benda atau sel-sel yang hidup dan yang lebih penting bahwa akal yang bekerja, berfikir.
Aspek ketiga manusia adalah potensi rohani. Al- Syaibani (1979:130) menyatakan bahwa manusia terdiri atas tiga potensi yang sama pentingnya, yaitu jasmani, akal, dan roh.
Abdul Fattah Jalal tidak menjelaskan apa roh itu ia juga mengutip surat Al- Isra ayat 85 yang menjelaskan bahwa manusia tidak akan akan mampu mengetahui roh, ia hanya menyatakan bahwa roh itu ditiupkan ke dalam segumpal tanah liat, lantas Adam itu hidup. Roh di tiupkan kedalam janin lantas janin itu hidup. Akhirnya ia menyatakan bahwa ruh itu terpadu dengan kalbu, dalam hal itu Abdul Fattah menyatukan kalbu dengan ruh. Maka penyatuan itu yang disebut rohani.



2.      Manusia sempurna menurut islam
a.       Jasmani yang sehat serta kuat dan berketrampilan
Orang islam perlu memiliki jasmani yang sehat serta kuat, terutama berhubungan dengan keperluan penyiaran dan pembelaan serta penegakkan ajaran islam.
Islam menghendaki agar orang islam itu sehat mentalnya karena inti ajaran islam (iman) adalah persoalan mental. Kesehatan mental berkaitan erat dengan kesehatan jasmani. Karena kesehatan mental penting, maka kesehatan jasmani pun penting pula karena kesehatan jasmani sering berkaitan dengan pembelaan islam, maka sejak permulaan sejarahnya pendidikan jasmani ( agar sehat dan kuat) diberikan oleh para pemimpin islam, yaitu berupa latihan memanah, berenang, menggunakan senjata, menunggang kuda, lari cepat ( Al- Syaibani, 1979:503).
Kesehatan dan kekuatan yang berkaitan dengan kemampuan menguasai filsafat dan sains serta pengelaolaan alam. Oleh karena itu, semakin wajarlah kiranya bila islam memandang jasmani yang sehat serta kuat sebagai salah satu cirri muslim yang sempurna. Pada jasmani yang sehat terdapatlah indra yang sehat dan bekerja dengan baik. Indra yang baik diperlukan dalam penguasaan filsafat dan sains, serta dalam pengelolaan alam. Jadi, kesimpulannya wajar bila islam memandang jasmani yang sehat dan kuat sebagai salah satu ciri muslim yang ideal.
b.      Cerdas serta pandai
Salah satu cirri muslim yang sempurna ialah cerdas serta pandai. Kecerdasan dan kepandaian itu dapat dilihat melalui indicator- indicator sebagai berikut:
1.      Memiliki sains yang banyak dan berkualitas tinggi. Sains adalah pengetahuan manusia yang merupakan produk indra dan akal dalam sains keliahatan tinggi atau rendahnya mutu akal.
2.      Mampu memahami dan menghasilakan filsafat. Filsafat adalah jenis pengetahuan yang semata- mata akliah.
c.       Rohani yang berkualitas tinggi
Rohani itu samar, ruwet, belum jelas batasannya manusia belum atau tidak akan memiliki cukup pengetahuan untuk mengetahui hakekatnya. Kebanyakan buku tashawuf dan pendidikan islam menyebutkan qalb (kalbu) saja.
B.     Pengertian Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan ialah suatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai. Dasar kehidupan adalah pandangan hidup T.S. Eliot ( lihat Du Dois, 1979:14) menyatakan bahwa pendidikan yang amat penting itu tujuannya harus diambil dari pandangan hidup. Jika pandangan hidup kita adalah islam maka tujuan pendidika kita haruslah diambil dari ajaran islam. Kalau kita melihat kembali pengertian pendidikan islam, akan terlihat dengan jelas sesuatu yang diharapkan terwujud setelah orang mengalami pendidikan islam secara keseluruhan yaitu kepribadian seseoarang yang memebuatnya menjadi insane kamil dengan pola takwa. Insan kamil artinya manusia utuh rohani dan jasmani dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena takwanya kepada Allah SWT.[1]
Menurut Abdul Fattah Jalal (1988: 119), tujuan umum pendidikan islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah.[2]
Menurut Quthb (1988: 21), tujuan umum pendidikan adalah manusia yang takwa.
Konferensi Dunia Pertama tentang pendidikan islam ( 1977) berkesimpulan bahwa tujuan akhir pendidikan islam adalah manusia yang menyerahkan diri secara mutlak kepada Allah ( Ashraf, 1982:2).
Para ahli pendidikan islam sepakat bahwa tujuan umum (sebagian menyebutnya tujuan akhir) pendidikan islam ialah manusia yang baik itu ialah manusia yang beribadah kepada Allah.
Al- Syaibani menjabarkan tujuan pendidikan islam menjadi:
1.      Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku, jasmani dan rohani, dan kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan akhirat.
2.      Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu, dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya pengalaman masyarakat.
3.      Tujuan professional, yang berkaitan dengan pendidikan dalam pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.
Al- Aynayni (1980: 153- 217), membagi tujuan pendidikan islam menjadi tujan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum ialah beribadah kepada Allah, maksudnya membentuk manusia yang beribadah kepada Allah. Selanjutnya ia menyatakan bahwa tujuan umum ini sifatnya tetap, berlaku disegala tempat, waktu, dan keadaan. Tujuan khusus pendidikan islam ditetapkan berdasarkan keadaan tempat dengan mempertimbangkan keadaan geografi, ekonomi, dan lain- lain yang ada di tempat itu.
C.     Penerapan dalam Tri Pusat Pendidikan
1.      Pendidikan di keluarga
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak- anak mereka, karena dari merekalah anak mula- mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.
Orang tua ibu dan ayah memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak- anaknya. Sejak seorang anak lahir, ibunyalah yang selalu ada disampingnya. Oleh karena itu ia meniru peranan ibunya dan biasanya, seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabila ibu itu menjalankan tugasnya dengan baik. Ibu merupakan orang yang mula- mula dikenal anak, yang mula- mula menjadi temannya dan yang mula- mula dipercayanya. Apapun yang dilakukan ibu dapat dimanfaatkannya, kecuali apabila ia ditingalkan. Dengan memahami segala sesuatu yang terkandung didalam hati anaknya juga jika anak telah mulai agak besar, disertai kasih sayang, dapatlah ibu mengambil ati anaknya untuk selama- lamanya.
Contoh pendidikan islam dalam keluarga salah satunya yaitu; anak harus sudah terampil melakukan ibadat, (sekurang-kurangnya ibadat wajib) meskipun ia belum memahami dan menghayati ibadat itu.

2.      Pendidikan di Sekolah
Guru adalah pendidik profesional, karenanya secara implicit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab  pendidikan yang terpikul dipundak para orang tua. Mereka ini, tatkala menyerahkan anaknya ke sekolah, sekaligus berarti pelimpahan sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru. Hal itu pun menunjukkan pula bahwa orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya kepada sembarang guru atau sekolah karena tidak sembarang orang dapat menjabat guru.
Misalnya: agar peserta didik dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ayat- ayat al- qur’an secara benar, mendalam dan komperhensif ( Abuddin Nata, 2010: 65).

3.      Pendidikan di Masyarakat
Masyarakat turut serta memikul tanggung jawab pendidikan secara sederhana masyarakat dapat diartikan sebagai kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan Negara, kebudayaan dan agama. Setiap masyarakat mempunyai cita- cita, peraturan- peraturan dan system kekuasaan tertentu.
Masyarakat, besar pengaruhnya dalam memberi arah terhadap pendidikan anak, terutama para pemimpin masyarakat atau penguasa yang ada di dalamnya pemimpin masyarakat muslim tentu saja menghendaki agar setiap anak dididik menjadi anggota yang taat dan patuh menjalankan agamanya, baik dalam lingkungan keluarganya, anggota sepermainannya, kelompok kelasnya dan sekolahnya. Bila anak telah besar diharapkan menjadi anggota yang baik pula sebagai warga desa, warga kota dan warga Negara. Dengan demikian, dipundak mereka terpikul keikut sertaan membimbing pertumbuhan dan perkembangan anak. Ini berarti bahwa pemimpin dan penguasa dari masyarakat ikut bertanggung jawab terhadap penyelengaraan pendidikan. Sebab tanggung jawab pendidikan pada hakekatnya merupakan tanggung jawab moral dari setiap orng dewasa baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok sosial. Tanggung jawab ini ditinjau dari segi ajaran islam, secara implisit mengandung pula tanggunag jawab pendidikan.
Lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara, dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai. Orang yang sudah takwa dalam bentuk insan kamil, masih perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang – kurangnya pemeliharaan supaya tidak luntur dan berkurang, meskipun pendidikan oleh diri sendiri dan bukan dalam pendidikan formal.[3]
 Misalanya: tersosialisasikannya nilai- nilai agama, nilai budaya, faham ideology dan misi organisasi kepada masyarakat ( Abuddin Nata, 2010:66).


D.    Penutup
1.      Kesimpulan
Berdasarkan uraian dan analisis sebagaimana tersebut diatas, dapat kami simpulkan sebagai berikut:
1)      Dalam islam tujuan pendidikan sangat penting ditetapkan dengan dasar ikhlas semata- mata karena Allah, dan dicapai secara bertahap, mulai dari tujuan yang paling sederhana hingga tujuan yang paling tinggi.
2)      Dalam islam, tujuan pendidikan diarahkan pada terbinanya seluruh bakat dan potensi manusia sesuai dengan nilai- nilai ajaran islam, sehningga dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi dalam rangka pengabdiannya kepada Tuhan.
3)      Bahwa dalam islam, keberhasial pendidikan, bukan semata- mata ditentukan oleh usaha guru, lembaga pendidikan, atau usaha peserta didik, melainkan juga karena petunjuk dan bantuan dari Tuhan.

2.      Saran
Bahwa pendidikan hendaknya ditujukan untuk menciptakan keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh, dengan cara melatih jiwa, akal fikiran, perasaan, dan fisik manusia. Denagan demikian, pendidikan harus mengupayakan tumbuhnya sekuruh potensi manusia, baik yang bersifat spriritual, intelektual. Daya khayal, fisik, ilmu pengetahuan maupun bahasa, baik secara perorangan maupun kelompok, dan mendorong tumbuhnya seluruh aspek tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan.



Daftar Pustaka
Daradjat, dkk, Dr Zakiyah, 2011, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
Tafsir, Dr. Ahmad, 2011, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Rosdakarya.


[1]  Zakiyah Dradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), cet- ke- 9, hlm 29.
[2]  Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011). Cet- ke- 10, hlm 46.
[3]  Zakiyah Daradjat, op. cit. Hlm. 4 (2012), cet- ke- 10, hlm 35- 45.

MURJIAH


KHAWARIJ
ž  Khawarij (kharaja = keluar)
ž  Mereka kadang juga dinamai Haruriah (dari kata Harura, nama desa dekat kota Kufah, Irak, lokasi mereka berkumpul setelah memisahkan diri dari Ali
ž  Mereka menamai diri Syurah (Yasyr = menjual), yaitu orang-orang yang menjual diri demi keridhaan Allah.
ž  Yang pertama kali menjadi Imam Khawarij adalah Abdullah Ibn Abi Wahb al-Rasyidi
ž  Umumnya pengikut Khawarij adalah orang Irak dan umumnya Arab Badawi dan karena itu bersikap keras, berfikir sederhana, berani, dan merdeka
Beberapa ajaran Kawarij adalah:
ž  Pemimpin tidak harus dari suku Quraisy
ž  Mukmin yang berdosa = kafir = musyrik = boleh/tidak boleh dibunuh.
ž  Khalifah Utsman dan Ali kafir
al-Muhakkimah
ž  Golongan Khawarij asli yang menganggap kafir semua yang terlibat di dalam tahkîm atau arbitrase.
ž  Hukum kafir dalam hal ini kemudian diperluas maknanya terhadap semua yang melakukan dosa besar.
al-Ibadiah
ž  Golongan ini dianggap moderat. Diimami oleh Abdullah Ibn Ibad yang pada 686 M memisahkan diri dari al-Azariqah.
ž  Ajaran-ajaran mereka adalah:
ž  Muslim yang tidak sepaham dengan mereka adalah kafir, tetapi tidak boleh dibunuh bahkan diperlakukan dengan baik.
ž  Semua daerah adalah dar al-Tawhid kecuali milik pemerintah kafir.
ž  Yang berdosa besar disebut muwahhid, tapi bukan kafir, tetapi bukan mukmin
ž  Semua golongan Khawarij telah punah kecuali al-Ibadiah
al-Azariqah
ž  Lahir setelah al-Muhakkimah hancur dan diimami oleh Nafi` Ibn al-Azraq.
ž   al-Azariqah lebih radikal dari al-Muhakkimah. Term kafir diganti oleh mereka menjadi musyrik.
ž  Yang musyrik adalah semua yang tidak sepaham dengan mereka atau yang sefaham tetapi tidak mau hijrah. Yang sudah dicap musyrik, halal darahnya dan darah keluarganya.
ž  Mereka menciptakan dar al-Islam dan dar al-Kufr
al-Najdat
ž  Diimami oleh Najdah Ibn Amir al-Hanafi dan mulanya menggabungkan diri dengan al-Azariqah.
ž  Beberapa pengikut al-Azraq: Abu Fudaik, Rasyid al-Tawil, dan Atiah al-Hanafi tidak sepakat bahwa yang tidak hijrah dihukum musyrik dan juga tidak setuju halalnya darah anak-isteri muslim yang berbeda paham.
ž  Bagi mereka, yang berdosa besar dan kekal di neraka hanya yang tidak segolongan dengan mereka. Adapun yang segolongan dan berdosa, tetap disiksa tapi bukan di nereka dan nanti akan masuk surga.
ž  Bagi mereka, Imam/pemimpin hanya perlu jika maslahat menghendaki demikian
ž  al-Najdat yang mula-mula memperkenalkan konsep taqiyah.
ž  Belakangan, Abu Fudaik, Rasyid al-Tawil, dan Atiah al-Hanafi kembali tidak sepakat dengan pemimpinnya dan memisahkan diri.
al-`Ajaridah
ž  al-Ajaridah adalah pengikut Abd al-Karim Ibn Ajrad, kawan Atiah al-Hanafi.
ž  Bagi mereka, hijrah bukan sesuatu yang wajib, hanya dianjurkan.
ž  Mereka menganut puritanisme hingga menolak surah Yusuf dari al-Quran karena mengandung cinta, sedangkan tidak ada cinta dalam al-Quran.
ž  Kelompok ini pecah menjadi al-Maimuniah dan al-Hamziyah yang menganut qadariyah serta al-Syu`aibiyah dan al-Hazimiah yang menganut jabariyah.
al-Sufriah
ž  Diimami oleh Zaid Ibn al-Asfar dan berpaham mirip dengan al-Azariqah, namun kurang ekstrim.
ž 
Mu`tazilah
ž  Beberapa teori menyebutkan penamaan Mu`tazilah berasal dari penamaan orang lain terhadap peristiwa pemisahan diri Wasil Ibn Ata dari majelis Hasan al-Basri.
ž  Ahmad Amin berpendapat bahwa Mu`tazilah sudah menjadi istilah sebelum peristiwa Wasil. Yang menghidarkan diri dari penialaian tentang pertentangan Ali, Usman, dan Mu`awiyah; atau berdiri di antara Khawarij dan Murji`ah.
ž  al-Nasysyar berbeda dengan Ahmad Amin. Baginya, menjauhkan diri maksudnya di sini adalah memusatkan pikiran pada ilmu pengetahuan dan ibadah. Contohnya adalah dua cucu Nabi, Abu Hasyim dan al-Hasan Ibn Muhammad al-Hanafiah. Wasil berhubungan erat dengan Abu Hasyim.
Ajaran-ajaran Mu`tazilah:
ž  Berdosa besar = fasiq
ž  Qadariah
ž  Sifat Tuhan bukanlah sifat yang mempunyai wujud tersendiri di luar zat.
ž  al-Salah wa al-aslah = Tuhan wajib mewujudkan yang biak bahkan terbaik bagi manusia
ž  Berbuat zhalim tidak termasuk dalam kekuasaan Tuhan.
ž  Tuhan, baik dan buruk bisa diketahui lewat akal.
ž  al-Quran mujizat bukan pada gaya bahasanya, tetapi pada isinya.
ž  al-Quran adalah makhluk.
ž  Tuhan tidak akan dapat dilihat di akhirat dengan mata kepala.
ž  Ushul al-Kamsah: al-tawhid, al-`adl, al-wa`d wa al-wa`id, al-manzilah bayn al-manzilatayn, al-amr bi al-ma`ruf wa al-nahy `an al-munkar.
Ahl Sunnah dan Jamaah
ž  Nama Ahl Sunnah dan Jamaah adalah kontra penamaan bagi Mu`tazilah yang dianggap tidak berpegang pada Sunnah dan pengikutnya minoritas.
ž  Namun ada juga mengartikan Sunnah sebagai “jalan tengah” antara jabariyah dan qadariyah atau antara Syi`ah dan Khawarij.
ž  Diimami oleh Abu al-Hasan Ali Ibn Ismail al-Asy`ari yang dulunya adalah penganut Mu`tazilah.
ž  Al-Asy`ari meninggalkan Mu`tazilah di masa kemundurannya.
ž  Ajaran Ahl Sunnah:
ž  Tuhan mempunyai sifat.
ž  Al-Quran bukan makhluk.
ž  Tuhan dapat dilihat di akhirat.
ž  Perbuatan manusia diciptakan oleh Tuhan.
ž  Tuhan mempunyai muka, tangan, mata dsb.
ž  Tuhan berbuat sekehendak-Nya.
Para Imam Ahl Sunnah
al-Asy`ari
al-Baqillani
al-Juwaini
Maturidiah
Tuhan mempunyai sifat
Bukan sifat tapi hal.
Sama dengan al-Asy`ari
Sama dengan al-Asy`ari
Al-Quran bukan makhluk
Sama dengan al-Asy`ari
Sama dengan al-Asy`ari
Sama dengan al-Asy`ari
Tuhan dapat dilihat di akhirat
Sama dengan al-Asy`ari
Sama dengan al-Asy`ari
Sama dengan al-Asy`ari
Yang efektif adalah perbuatan Tuhan
Yang efektif adalah perbuatan manusia
Wujud perbuatan tergantung manusia
Manusia yang mewujudkan perbuatannya
Tuhan mempunyai muka, tangan, mata dsb
Sama dengan al-Asy`ari
Tangan Tuhan harus di-tawil menjadi kekuasaan Tuhan
Tangan Tuhan adalah ungkapan kiasan
Tuhan berbuat sekehendak-Nya
Sama dengan al-Asy`ari
Sama dengan al-Asy`ari
Tuhan tidak berbuat sekehendak-Nya
Jabariah Moderat
ž  Diimami oleh al-Husain Ibn Muhammad al-Najjar.
ž  Baginya, Tuhanlah yang menciptakan perbuatan-perbuatan manusia, baik maupun jahat. Manusia berperan mewujudkannya lewat kasb.
ž  Jabariah moderat menjembatani antara Jabariah dan Qadariah.
Jabariah
ž  Masyarakat Arab sebelum Islam adalah penganut Jabariah alami. Kehidupan Arab yang serba sederhana dan jauh dari pengetahuan, menyesuaikan dengan padang pasir dan kehendak alam.
ž  Yang pertama kali menonjolkan Jabariah adalah Ja`d Ibn Dirham dan disyiarkan oleh Jahm Ibn Safwan. Yang terakhir ini adalah pendiri Murji`ah al-Jahmiyah.
ž  Jahm dipancung oleh pemerintah Banu Umayyah.
Qadariah       
ž  Qadariah dinisbahkan kepada Ma`bad al-Juhani yang adalah kawan Ghailan al-Dimasyqi. Konon, keduanya mengambil paham itu dari seorang mantan Kristen di Irak.
ž  Bagi Qadariah, manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan menentukan perjalanan hidupnya dan perbuatan-perbuatannya.
ž  Ma`bad mati di tangan al-Hajjaj dari Banu Umayyah.
ž  Ghailan dipancung oleh pemerintahan Hisyam Abd al-Malik.
ž  Ghailan adalah pemuka Murji`ah dari golongan al-Shalihiah.
ž  Awal doktrin politik Syi`ah adalah klaim legitimis atas nama Ali dan keturunannya.
ž  Di antara ajaran Syi`ah:
ž  Imamah
ž  Imam yang ditunggu-tunggu
ž  Taqiyah
ž  Mirip dengan Mu`tazilah dalam hal rasionalitas dan qadariah
Cabang-cabang Syi`ah:
ž  Imamah atau Itsna Asy`ariyah,
ž  Ismailiyah,
ž  Zaidiyah, dan
ž  Sab`iyah
Perbandingan
Imamah
Mu`tazilah
al-Asy`ari
Dasar Agama ada lima: Tawhid, Keadilan, Kenabian, Imamah, dan Hari Pembalasan
Dasar Agama: Tawhid, Keadilan, Pahala dan Hukuman, Stasiun di antara dua Stasiun, dan Amar Makruf dan Nahi Munkar
Dasar Agama: Tawhid, Kenabian, Hari Pembalasan, Kehendak Mutlak Tuhan
Tuhan seharusnya membalas perbuatan manusia, namun Dia tidak wajib
Tuhan wajib membalas perbuatan manusia sesuai dengan baik ataupun buruk
Tuhan tidak wajib membalas perbuatan manusia sesuai dengan baik ataupun buruk
Sifat Tuhan identik dengan esensi-Nya
Tuhan tidak mempunyai sifat
Tuhan mempunyai sifat
Tuhan immaterial
Tuhan immaterial
Tuhan material
al-amr bayn al-amrayn
Tuhan telah mendelegasikan (tafwid) kebebasan kepada manusia ketika mencipta
Manusia tidak mempunyai daya dan pilihan dalam perbuatannya
Alam semesta adalah Kalam Allah Yang Suci
Kalam Allah adalah makhluk
Kalam Allah qadim
ž  Murji`ah
ž  Jika Khawarij memastikan bahwa dua golongan yang bertikai dalam tahkim adalah orang kafir, maka ada golongan yang tidak mau turut campur. Merekalah Murjiah.
ž  Murjiah berasal dari kata arja`a yang berarti lebih baik menunda. Juga berarti memberi harapan.
Beberapa ajaran Murjiah:
ž  Yang berdosa besar tetap mukmin, bukan kafir. Hukumannya hanya bisa ditentukan di akhirat, tidak kekal di neraka dan bisa diampuni oleh Allah.
ž  Iman lebih diutamakan daripada perbuatan.
ž  Murjiah berasal dari kata arja`a yang berarti lebih baik menunda. Juga berarti memberi harapan.
ž  Golongan Murjiah moderat bisa dianggap telah termasuk di dalam golongan Ahli Sunnah. Golongan yang ekstrim tidak ada lagi secara organisasi.
ž  Murjiah ekstrim adalah: al-Jahmiah, al-Salihiah, al-Yunusiah, al-Ubaidiah, dan al-Khassaniah.
ž  Murji`ah sebenarnya meneguhkan kehendak penuh Tuhan atas manusia (jabariah) dengan menangguhkan keputusan kafir atau tidaknya pelaku dosa besar
ž  Farhad Daftary (ed.), Tradisi-Tradisi Intelektual Islam, Jakarta: Erlangga, 2006
ž  Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, Bandung: Mizan, 2002
ž  Harun Nasution, Teologi Islam, Jakarta; UI Press, 2002
ž  Fazlur Rahman, Kebangkitan dan Pembaharuan di dalam Islam, Bandung: Pustaka, 2001
ž  Fazlur Rahman, Islam, Badung: Pustaka, 2000
ž  Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (eds.), History of Islamic Philosphy, London: Routledge, 1996